Sejarah Perahu Baganduang Lubuk Jambi, Budaya Kuansing

Sejarah Perahu Baganduang Lubuk Jambi, Budaya Kuansing
Kabarkuansing.com - Perahu Baganduang merupakan sebuah atraksi budaya khas masyarakat Kuantan Mudik berupa parade sampan tradisional yang dihiasi berbagai ornamen dan warna-warni yang menarik. Perahu baganduang mempunyai arti dua atau tiga perahu yang dirangkai / diikat menjadi satu (diganduang) menggunakan bambu dan dihiasi oleh berbagai simbol adat yang berwarna-warni. Kecamatan Kuantan Mudik, tempat berlangsungnya Festival Perahu Baganduang, berjarak sekitar 21 km dari Kota Teluk Kuantan. Untuk menuju Kota Teluk Kuantan wisatawan dapat menggunakan kendaraan seperti mobil dan sepeda motor.
Budaya Kuansing Perahu Baganduang
Festival Perahu Baganduang merupakan acara lomba yang terbilang ramai dan sekaligus merupakan ritual yang mencerminkan kebesaran adat masyarakat Kuantan. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme kedatangan masyarakat Kuantan serta pernak-pernik hiasan perahu yang digunakan dalam festival ini.
sejarah adat perahu baganduang
Manjopuik Limau adalah prosesi setelah kegiatan mengadakan kegiatan batobo ke sawah antara pemuda pemudi yang menaruh kasih sayang diperantara oleh orang ketiga yang disebut

SEJARAH PERAHU BAGANDUANG
Tradisi berlayar dengan perahu baganduang telah ada semenjak masa kerajaan-kerajaan dahulu, Perahu ini biasanya dipakai oleh raja sebagai sarana transportasi. Perahu Baganduang ini pertama kali ditampilkan sebagai festival pada tahun 1996
tradisi adat lubuk jambi baganduang
Beratus tahun silam keadaan penduduk Kuantan Mudik khususnya, Riau pada umumnya sangatlah serba kekurangan/ketinggalan bila di banding dengan negeri-negeri lainnya. Walaupun demikian, para penghuni Kuantan Mudik terutama Kenegrian Lubuk Jambi para pemuda/pemudinya orang-orang kreatif, dan mempunyai gagasan yang luas, suka bergotong royong untuk membangunn desa, untuk mensejahterakan penduduk.

Para pemuda/pemudi beserta orang tua-tua bahu membahu untuk mengerjakan sesuatu, contohnya turun ke sawah, untuk mengerjakan sawah yang begitu luasnya, mereka mendirikan perkumpulan kerja yang disebut “batobo”. Tobo ini terdiri darii bujang gadis dan orang tua untuk mengatur pekerjaan di sawah.

Alat pertanian di masa lalu adalah alat yang sangat unik, mesin-mesin seperti sekarang belum ada. Para petani hanya menggunakan binatang ternak kerbau, dan untuk membajak hanya satu-satu saja dengan arti kata tenaga kerbau di gunakan untuk meroncah, menghancurkan rumput menjadi bubur tanah, sehingga para petani dapat bantuan tenaga pengelolaan tanah. Kalau tanah kering, maka muda/mudi tadi membanting tulang bersama-sama batobo mencakul tanah.

Begitulah kerja muda/mudi di kampungnya sepanjang tahun, pekerjaan apapun mereka kerjakan bersama baik menanam, menyiang, dan terakhir menuai. Didalam kelompok tobo inilah masing-masing muda/mudi mulai menjalin masa perkenalan untuk saling mencintai, tapi semua percakapan ini sangat rahasia sekali, antara pemuda dengan pemuda tak tahu sedikitpun, yang pemudinya antara satu sama lain juga tidak ada yang mengetahui, semuanya sama-sama rahasia.

Kalau muda/mudi sekarang saling membeberkan baik sesama teman maupun sama orangtuanya, bertolak belakang dengan muda/mudi yang dulu.

Untuk lebih akrabnya hubungan mereka itu, di waktu batobo siangnya mereka membuat suatu persetujuan yang berikut ini adalah dialognya.

Abang: saya ingin dating ke sini untuk membicarakan hubungan kita agar lebih serius lagi. Apakah adik bersedia?

Adik: ambo setuju sekali (saya setuju sekali)

Abang: kok lai satuju, abang datang beko malam kerumah adik/ mancaliak. (kalau setuju, abang nanti malam datang kerumah adik/mengunjungi.)

Adik: datanglah.

Abang: dimano tompek adiak tiduar? (dimana tempat adik tidur?)

Adik: dokek balobek ujuang. (dekat jendela paling ujung sekali)

Abang: yolah tarima kasih.( iyalah terima kasih)


MAKNA DALAM SETIAP BAGIAN-BAGIAN DARI PERAHU BAGANDUANG
H Sukarmis diwakili Bupati Kuansing Asisten Ekonomi dan Pembangunan H.Marduyut (2009) menyatakan “tradisi ini adalah unik bahkan di daerah lain juga memiliki perahu hias, tetapi keunikan dan makna yang terkandung di dalamnya berbeda. Hal ini disebabkan arti yang terkandung di perahu ini lebih spesifik dan memberikan pencerahan, pengajaran instruksi, dan melambangkan kehidupan yang dialami oleh masyarakat saat ini”.
Keunikan yang terdapat dalam perahu baganduang ini terletak pada perahu dua atau tiga unit digabungkan bersama-sama dengan beberapa jenis atribut tonggak (kolom) diberi simbol tanduk kerbau, gambar dekoratif dari Presiden dan Wakil Presiden, cermin, payung, dan menara-menara masjid. Dalam perahu payung melambangkan tempat berlindung, air tanduk kerbau melambangkan masyarakat yang hidup dalam pertanian, masjid kubah melambangkan Islam, dan bulan dan bintang melambangkan masjid dan mengaji di masjid.
Hiasan –hiasan yang terdapat dalam perahu baganduang, mulai dari bawah berupa umbul-umbul, ditengah diberi janur, dan hiasan-hiasan lain. Supaya lebih jelas bisa dilihat dari gambar perahu baganduang .

Arti lambang yang ada di perahu baganduang adalah sebagai berikut:
  • Perahu digandeng tiga melambangkan tali nan tigo sapilin.
  • Lantai yang dipagar merupakan arena pencak silat.
  • Beranda melambangkan balai adat.
  • Tanduk melambangkan keadilan.
  • Labu-labu melambangkan persatuan dan kesatuan.
  • Cermin polos melambangkan urang malin nan barompek yang suluahbendang dalam nagori.
  • Lima buah payung lambang rukun islam.
  • Padi baranggik dan dua buah merawagh lambang kemakmuran.
  • Bulan bintang lambang ketuhanan.
  • Kain panjang yang warna warni melambangkan masyarakat yang banyak suku.
  • Foto presiden dan wakil presiden melambangkan masyarakat Kuansing mendukung pemerintah.
  • Payung kuning lambang kemakmuran.
Festival perahu baganduang merupakan atraksi kebudayaan khas Kabupaten Kuantan Singingi, yang berasal dari Kecamatan Kuantan Mudik. Pengertian perahu baganduang ini adalah 2 atau 3 perahu yang digandeng menjadi satu dan diberi riasan-riasan yang setiap riasan-riasan itu mempunyai makna tersendiri. Sejarah awalnya digunakan oleh raja sebagai alat transportasi. Lambat laun tradisi berlayar ini kemudian dipakai untuk mengantar air limau oleh calon menantu ke rumah calon mertua. Oleh sebab itu, kebiasaan menggunakan perahu tersebut dilestarikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat dan sekarang diwujudkan melalui festival perahu baganduang asli dari Kuantan Mudik, Kuantan Singingi, Riau.

Perlu diingat bahwa festival ini merupakan acara lomba yang terbilang ramai, sekaligus ritual yang mencerminkan kebesaran adat masyarakat kuantan. Wisatawan yang berkunjung ke festival ini dapat mengapresiasi perahu yang di atasnya dibangun rumah dan dihiasi dengan berbagai simbol adat yang berwarna warni serta iringan musik tradisional yaitu musik “Rarak Godang” yang menambah cita rasa tersendiri bagi perayaan festival ini.

sumber :lailarafdinalputri.wordpress.com


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top