'Aksi Damai' Para Guru Di Kuansing Ini Di Warnai Ketegangan

unjuk rasa guru di Kuansing di warnai ketegangan
Unjuk Rasa Guru Kuansing Penuh Ketegangan-Ribuan guru di Kuansing menggelar 'aksi damai' pada Rabu pagi (11/1/2017). Rombongan unjuk rasa bergerak mulai dari Lapangan Limuno memakai kendaraan roda dua menuju sekitaran Sport Center Teluk Kuantan. Di sekitaran Sport Center, mereka memarkir kendaraan roda dua nya. Dari sana, barisan para guru sepanjang kurang lebih 2 KM ini berjalan kaki ke wilayah kantor Pemkab Kuantan Singingi.

'Aksi damai' para guru ini sempat di warnai beberapa ketegangan. Beruntung ketegangan-ketegangan tersebut tidak sampai anarkis. Berikut beberapa-beberapa ketegangan dari yang 'luar biasa' sampai 'greget' yang sudah kami rangkum.

5. Peringatan keras dari Kapolres Kuansing

Setelah menunaikan ibadah shalat Dzuhur dan makan siang, ribuan guru kembali melaksanakan 'aksi damai'. Ribuan guru 'aksi damai' meminta kepada anggota DPRD Kuansing untuk menemui mereka di lapangan upacara.

AKBP Dasuki Herlambang, SIk, MH selaku Kapolres Kuantan Singingi langsung berkoordinasi dengan ketua DPRD Kuansing, Andi Putra, SH, MH, untuk langsung dapat menuju ke lokasi. Sampai di lokasi yang ditentukan, Andi Putra menyampaikan tanggapan. Massa 'aksi damai' bersorak dan meneriaki Andi Putra dengan kata-kata yang 'kurang sopan'. Melihat hal itu, Kapolres Kuansing, Dasuki Herlambang, langsung mengambil alih mikrofon. Dasuki Herlambang meminta para guru untuk tertib mendengarkan pemaparan ketua DPRD Kuansing.

"Ibu-ibu dan bapak-bapak ini kan guru, tolong berbicara yang santun." teriak Dasuki Herlambang dengan keras, sehingga para guru 'aksi damai' terdiam.

4. Sekda Kuansing di soraki dan di kejar-kejari

Wabup Kuansing, H. Halim beserta Sekda Kuansing, Drs. H. Muharman, MPd., menjumpai para massa demonstran 'aksi damai'. Ketika Muharman memberikan jawaban tentang dana Tunjangan Profesi Guru (TPG), seluruh guru peserta 'aksi damai' menyorakinya. Beberapa kali Muharman mencoba untuk menenangkan situasi para guru. Malahan seorang guru tak dapat lagi menahan emosi. Seorang guru tersebut sempat mengejar Muharman yang berdiri di atas podium upacara. Beruntung satpol PP dan polisi lebih cepat mengamankan situasi sampai Wabup dan Sekda Kuansing meninggalkan lokasi massa 'aksi damai'.

3. Ketua PGRI Kuansing sempat di hujat

Ketika para guru sampai di lapangan upacara kantor Bupati Kuansing, situasi langsung memanas. Seorang orator menghujat ketua PGRI Kuansing, Jomaris, yang hadir bersama demonstran. Merasa tidak terima akan ucapan sang orator, Jomaris langsung merebut mikrofon dari sang orator. Jomaris terlihat kesal dan menghardik oknum guru sang orator tersebut agar berbicara sopan. Saat itu juga Jomaris bersitegang dengan para anggotanya sampai beberapa orator lainnya dan koordinator aksi melerai keduanya. Suasana keduanya kembali tenang.

2. Perwakilan guru emosi di ruangan DPRD Kuansing

Ketegangan dari 'aksi damai' guru kembali terjadi. Kali ini diruangan hearing DPRD Kuansing. Ketegangan terjadi antara perwakilan guru dengan Ketua DPRD dan Sekda Kuansing selaku perwakilan Pemda.

Bukan hanya menyampaikan persoalan sertifikasi dang TPG, perwakilan guru juga menyampaikan penilaian terhadap kinerja DPRD Kuansing yang lebih banyak mendahulukan kepentingan partai. Mendengar hal itu, salah satu anggota DPRD Kuansing, Rustam Effendi, meminta perwakilan guru tersebut langsung saja menyampaikan apa yang menjadi tuntutannya, dan jangan membahas persoalan yang lain. Mendapati jawaban seperti itu dari Rustam Effendi, perwakilan guru pun langsung bereaksi. Beberapa orang guru pun mulai berdiri dan suasana menjadi tegang. Beruntung situasi cepat dikendalikan oleh Andi Putra hingga berakhirnya audiensi, kondisi kondusif.

1. Ketua Komisi A vs Ketua Forkogip

Gara-gara tudingan Ketua Forum Komunikasi Guru dan Insan Peduli Pendidikan (Forkogip) Kuantan Singingi, Ahdanan Shaleh, yang di tulis di salah satu akun sosial media, Ketua Komisi A DPRD Kuansing, Musliadi, mempertanyakan maksud dari semua tudingan tersebut. Musliadi menilai tudingan tersebut terlalu mendeskriditkan dirinya.

Awalnya Musliadi mempertanyakan secara baik-baik, namun, Ahdanan Shaleh kata'nya' merespon lain. Sehingga keduanya sempat cek cok dan situasi memanas sampai pertengkaran keduanya di lerai oleh anggota DPRD Kuansing. Ahdanan Shaleh pergi meninggalkan gedung DPRD Kuansing. (Novendra/KabarKuansing).


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top